Pagi - Catatan Si Bukan As*



Pagi itu waktu tidur yang nyaman. Seonggok kasur tipis, sebuah bantal berpulau, dan selembar selimut penguk pun jadi serasa fasilitas hotel bintang lima. Sepoi-sepoi angin nya seakan jadi AC yang disetel dengan dingin yang pas. Tak begitu dingin, tapi sejuk yang menghanyutkan. Sialan, aku sangat suka.

Tapi, pagi diisi dengan tidur itu membuah siang yang gundah. Dan itu yang tidak aku suka. Seakan kita sudah dipastikan akan kehilangan rejeki beberapa hari kemudian. Bagaimana tidak, bangun kesiangan saja rejeki dipatok ayam, apalagi tidur pagi? Mungkin sekali jika rejeki kita sudah diserbu masyarakat.

Jadi solusinya, sebisa mungkin kita tidak tidur pagi, agar bisa memastikan rejeki kita aman. Iya, setidaknya sampai rejeki kita amankan dengan kuncian dua rakaat dhuha dan surat waqiah, juga sedikit peluh kerja. Kemudian nikmati tidur kita sampai lima belas menit sebelum ashar tiba.

Komentar