Diam bukan hanya tentang kealpaan percakapan. Tapi
juga tentang kepudaran simpati, lunturnya empati, ketiadaan itikad untuk saling
mendengar, saling mengerti, saling memahami. Ketika kita memilih untuk diam
bukan hanya mulut yang tertutup, tapi juga telinga, juga hati, juga pikiran,
dan semuanya. Ketika semuanya sudah tertutup dan teramat gelap, keangkuhan akan
membelenggu kita sampai tamat. Tidak, tidak selalu tentang mati, bisa saja
hanya hampir. Tapi benar-benar hampir yang teramat sakit, teramat pahit, teramat clekit.
Diam adalah cara paling bengis untuk menyelesaikan
masalah. Karena dengan diam sebenarnya masalah tak pernah terselesaikan. Diam menanam
benih prasangka, kebencian, dan dendam yang akan kian subur seiring waktu kita
tetap memilih diam. Jika kita tetap memilih diam, benih-benih itu akan tumbuh
dan berbuah murka yang bisa meledak kapan saja. Dengan diam semua runyam tiada
habisnya.
Maka, jangan sekali-kali kita pilih diam sebagai penyelesaian. Iya memang diam itu menyelesaikan, tapi menyelesaikan kasih sayang, menyelesaikan pengertian, menyelesaikan kehidupan.
Komentar
Posting Komentar